Minggu, 31 Januari 2016

Siti Manggopoh, Singa Betina dari Sumatra Barat

Siti Manggopoh, Singa Betina dari Sumatera Barat

Perempuan perkasa ini memimpin rakyat berjuang melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Ia berperang menentang penjajah Belanda dengan gagah berani.

Namanya memang tidak setenar R.A. Kartini dari Jepara Jawa Tengah, yang memperjuangkan nasib perempuan, atau Cut Nyak Din yang berani mempertaruhkan nyawa dalam c. Bahkan mungkin orang lebih mengenal Rochana Koeddoes, pejuang hak-hak perempuan di Padang. Namun kalau dilihat dari catatan perjalanan hidup  dan sepak terjang Siti Manggopoh tidak kalah dari ketiga pendekar tersebut.

Dalam kelemahlembutannya sebagai perempuan Minang, ia mampu menunjukkan peran perempuan di tengah dominasi laki-laki yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Ia siap mengorbankan nyawa dalam beberapa pertempuran melawan penjajah Belanda.

Teriakan takbir “Allahu Akbar” selalu berkumandang untuk mengobarkan semangat perjuangan pasukan yang dipimpinnya, yang semuanya laki-laki. Karena keperkasaannya itulah , masyarakat Minang Menggelarinya “Singa Betina Manggopoh”. Dialah satu-satunya “Singa Batina dari Minangkabau”, karena tak ada perempuan seberani dia dalam merintis kemerdekan di Sumatera Barat.

***

SITI Manggopoh, yang bernama asli cukup singkat, Siti, lahir di bulan Mei 1880 di Kenagarian  Manggopoh, Kecamatan Luhak Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Manggopoh merupakan kenagarian tertua di Agam, disamping tiga Nagari lainnya, Bawan, Tiku, dan Garagahan. Di sana sawah dan ladang terbentang subur menghijau, didukung 13 sungai besar dan kecil, salah satunya sungai Antokan.

Orang tuanya, Sutan Tariak dan Mak Kipap, sudah lama mendambakan seorang anak perempuan. Sebab lima anak mereka sebelumnya semuanya laki-laki. Sebagai seorang Minang yang menganut adat Materilinial, keberadaan perempuan sangatlah berarti, untuk meneruskan keturunan dan merupakan kebanggan keluarga. Sebelum kelahiran Siti, keduanya merasa miskin, sehingga ketika Siti lahir menjadi kebanggaan, ibarat mendapat pengisi rumah gadang, Rumah adat Minangkabau, yang sudah sekian lama kosong.

Tumbuh dalam lingkungan saudara yang semuanya laki-laki, Siti Kecil terbiasa ikut ke pasar, sawah, Surau bahkan ke gelanggang persilatan, yang tempo dulu hanya di ikuti oleh kaum laki-laki. Orang tua dan abang-abangnya mengajari dan mendidiknya menjadi perempuan pemberani.

Dalam bertemanpun Siti tumbuh di lingkungan laki-laki, meskipun dia juga punya teman perempuan. Namun dia lebih senang melewatkan waktu bermain dan berjalan-jalan dengan teman-teman laki-laki, malah bermain hingga jauh dari kampungnya. Teman akrabnya Dullah Sutan Marajo, Udin, dan Majo Ali.

Namun sebagaimana perempuan Minang lainnya, Siti juga belajar mengaji di Surau, Bapasambahan (belajar keterampilan perempuan), selain melengkapi diri dengan ilmu bela diri. Saat beranjak dewasa, diapun di tuntut orang tuanya untuk menikah. Tapi tentu tak mudah bagi Siti menerima lelaki begitu saja sebagai suaminya.

Ia menginginkan lelaki yang kriterianya sangat “Sempurna” di zaman itu, harus paham ilmu agama dan dapat menguasai ilmu beladiri. Apalagi, seiring waktu berjalan, kepribadian Siti yang terbentuk kukuh, pantang melihat kezaliman, baik terhadap perempuan dan bangsanya, maka ia menuntut lelaki yang akan menikahinya harus segaris dengan cita-cita perjuangannya. Sebab, kala itu Belanda mulai melirik Nagari Manggopoh

Untunglah, akhirnya lelaki yang sesuai dengan kriterianya ia dapatkan juga pada diri Rasyid Bagindo Magek. Mereka bertemu saat sama-sama melayat seorang penghulu nagari yang meninggal. Rasyid adalah pemuda asal kampung Masang, masih dalam Kabupaten Agam. Dia Bako, atau masih ada hubungan keluarga dengan ayah Siti. Dan ternyata lima tahun sebelumnya Rasyid adalah teman Siti berlatih silat, selain Dullah dan Majo Ali. Tapi setelah itu Rasyid sempat merantau kemudian kembali kekampung sebagai pemuda yang dihormati karena penguasaan terhadap ilmu agama dan silat.

Pada 1904, keduanya menikah, dan beberapa tahun kemudian dikaruniai dua orang anak: Muhammad Yaman, laki-laki, dan Dalima, Perempuan. Untuk menggairahkan kehidupan bernagari, mereka membuka Gelanggang silat, yang akhirnya melahirkan pesliat-pesilat tangguh.

Pada saat Belanda mulai merayapi kenagarian Manggopoh, Siti mulai tak senang. Apalagi Belanda datang dengan menarik Belasting atau pajak. Menurut Abel Tasman dan kawan-kawan dalam buku Siti Manggapoh , saat itu beban kerja Rodi sudah sangat memberatkan masyarakat Manggopoh, hingga Siti dan beberapa lelaki berkumpul secara sembunyi-sembunyi untuk mengatur strategi menghadapi Belanda. Diam-diam mereka juga terus menerus mengasah kemampuan bela diri.

Semua itu mereka bungkus dengan berpura-pura patuh kepada Kompeni Belanda, menerima blangko pembayaran belasting, tapi di belakang Belanda mereka merobek-robeknya. Repotnya Belanda belakang hari mengetahuinya juga, mereka lalu turun ke Manggopoh untuk menyelidiki sikap masyarakat yang sebenarnya. Mereka mendirikan pos di sebuah bukit sejauh dua kilometer dari pasar Manggopoh. Ketika masuk ke desa, beberapa serdadu Belanda bertindak sepwenang-wenang, bahkan ada diantaranya yang merendahkan martabat perempuan. Mereka juga tidak bisa menjaga adat sopan santun yang berlaku di kalangan masyarakat Manggopoh, seperti mandi bertelanjang bulat di Sungai.

Perilaku tak senonoh itu, tentu saja memicu kemarahan Siti. Ia bertekad untuk melawan Belanda sebagaimana kafir-kafir yang menebarkan noda dan aib di kampungnya. Penduduk Manggopoh yang fanatik sependapat, sehingga Siti seperti mendapat “Modal keyakinan” untuk berjihad fi Sabilillah melawan kafir Belanda.

Ia segera mengumpulkan teman-teman seperguruannya di persilatan, sementara suaminya menghubungi para guru silat dan orang-orang yang dituakan, seperti H. Abdul Gafar, gelar Rajo Sipatokan, dan H. Abdul manna, ulama yang banyak memiliki santri dan pengikut. Siti dan suaminya juga mempersiapkan senjata tajam, seperti Keris, dan golok yang disebut Rudus atau Ladiang.

Mula-mula Siti dan kawan-kawannya berusaha mengendus informasi mengenai rencana dan kekuatan Belanda. Bahkan ia sempat terjun langsung untuk memata-matai  pasukan Belanda. Sebagai perempuan yang berpengaruh karena kharismanya, dan dengan sinar mata yang tajam, serta senyum yang membungkus kemarahan, ia menjalin persahabatan dengan para prajurit bahkan petinggi Belanda di Manggopoh.

Daya pikatnya sebagai perempuan yang cantik di zamannya, membuat ia bebas dan leluasa keluar masuk pos Belanda dengan menyamar sebagai perempuan desa yang lugu. Setelah itu ia menggali dan menelaah informasi yang dibutuhkannya. Dengan demikian ia tahu apa rencana Belanda yang akan menangkap penduduk yang mengabaikan Belasting. Mereka yang tidak mau membayar pajak akan dipenjarakan atau dibunuh. Diantaranya Dullah, temannya.

“Kamu tahu Dullah?” Tanya komandan Belanda kepada Siti. “Dia miskin, tidak mungkin mampu membayar Belasting” sahut Siti sambil menahan kegeramannya. Si Komandan tak acuh, malah memperlihatkan senjata-senajata baru yang lumayan banyak dengan sikap bangga dan tanpa curiga. Karena itulah Siti tahu jumlah serdadu Belanda di Manggopoh sebanyak 55 orang.

Informasi penting itu segera disampaikan kepada teman-teman seperjuangannya, lalu setelah itu mengatur strategi perjuangan. Menurutnya penyerangan ini harus dilakukan secara terorganisasi dengan kekuatan yang sudah pasti. Ia akhirnya menunjuk sebuah masjid di kampung parit, beberapa ratus meter dari markas Belanda.

Untuk mempersiapkan penyerangan, ia mengumpulkan para tokoh adat dan cerdik pandai untuk bermusyawarah, dipimpin oleh Pakcik Tuanku Padang, ulama asal Padang yang dianggap sebgai Urang Sumando (sbuah kekerabatan) oleh masyarakat Manggopoh. Hasil musyawarah itu disepakati mengajak masyarakat Kamang untuk bergabung. Maka ditunjuklah Majo Ali untuk menemui Ninik Mamak masyarakat Kamang. Mereka bertekad, “Setapak tak akan mundur, selangkah tak akan kembali.”

Selanjutnya dibentuk pasukan Inti yang terdiri dari 17 orang yang dipimpin langsung oleh Siti. Mereka itu, Antara lain, Siti, Rasyid, Tuaku Padang, Dullah, Majo Ali, Rahman Sidi Rajo, Tabuh Mangkuto Sutan, Dukap Marah Sulaiman, Muhammad bagindo Sutan, Tabad Sutan Saidi, Kalik Bagindo Marah, Unik, Sain Sidi Malin, Kana, Dullah Pakih, Nak Abbas Bagindo Bandaro, dan Sumun Sidi Marah.

Namun ternyata ada dua warga Manggopoh yang berkhianat, sehingga pada 14 Juni 1908 keberadaa pasukan 17 tercium oleh Belanda. Belakangan Belanda juga tahu, selama ini Siti ternyata memata-matai kekuatan Belanda. Hubungan erat antara Siti, Dullah dan Majo Ali (yang selama itu di incar Belanda) juga ketahuan. Dengan tuduhan menghasut warga Manggopoh agar tidak membayar pajak, mereka bertiga itupun ditangkap.

Mula-mula Belanda mengepung rumah Dullah, tapi sebelumnya ia sudah buru-buru menyingkir. Akhirnya karena kesal, serdadu Belanda itu menangkap Lipah, istri Dullah, berikut sebilah tombak dan keris. Lalu mendatangi rumah Majo Ali, namun orang yang di cari masih berada di Nagari Kamang, maka pasukan Belanda itupun menyandra Lilah, adik kandung perempuan Majo Ali. Ketika serdadu-serdadu itu menggerebek rumah Siti dan Rasyid, lagi-lagi mereka tidak menemukan siapapun, rumah Siti kosong dan terkunci rapat, namun sebenarnya Siti tengah mengambil air di Sumur belakang rumahnya, sementara Rasyid sedang mengantar Padi ke Kincir.

Segera Siti mengumpulkan teman-teman “Pasukan 17”  di Padang Mardani untuk merencanakan penyerbuan ke Markas Belanda. Padang Mardani adalah daerah yang angker, karena di kelilingi oleh pekuburan dan pepohonan besar yang lebat, sementara bila malam tiba berkabut tebal. Demi merahasiakan tempat berkumpul itu, pasukan 17 membuat kawasan itu semakin seram. Jika pasukan Belanda lewat, dimalam hari beberapa pasukan Siti bergelantungan di pohon berselimutkan kain putih mirip hantu. Tak jarang para serdadu Belanda itu lari tunggang langgang.

***

SUATU hari Siti mendengar keluarganya akan ditangkap. Ia segera mengungsikan mereka, orang tua dan dua orang anak Siti di sebuah pondok di Padang mardani. Siti sendiri bersama suaminya di pondok lain, jauh masuk di dalam hutan Padang Mardani. Ketika mereka mengungsi itulah, pada 15 Juni 1908 warga Kamang melancarkan serangan dahsyat terhadap pasukan Belanda. Dalam peperangan yang disebut sebagai perang Basosoh ini, majo Ali tampil gagah berani dengan keris di tangan. Di belakang hari ia digelari “Putra Manggopoh Aceh Pidie”  karena keberaniannya menyerupai perlawanan pejuang Aceh melawan si kafir Belanda.

Keesokan harinya, sore hari, Rasyid dan Majo Ali yang ikut dalam perang Kamang kembali ke Manggopoh untuk mengumpulkan pasukan 17. mereka menyerukan agar warga Manggopoh juga segera mengangkat senjata,”mengapa kalian semua diam? Kalau diantara kalian ada yang takut mati, sebaiknya pulang saja menanak nasi, dan biarkan saja saya berdua dengan Majo Ali menyerang kafir Belanda,” seru Siti.

Suara lantang satu-satunya perempuan dalam anggota pasukan 17 itu menyinggung semua perasaan laki-laki yang hadir. Kontan satu persatu mereka mengacungkan tangan, siap berjuang. “Allahu Akbar,”  teriak mereka bersama-sama. Selanjutnya mereka mengucapkan ikrar, “Allahu Akbar, setapak pun tak akan mundur, Esa hilang, duo terbilang, biar mati berkalang tanah daripado hidup terjajah.”

Pasukan itu lalu dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari Siti, Rasyid, Majo Ali, dan Dullah, tugasnya masuk ke dalam markas Belanda. Kelompok kedua, berjumlah 10 orang, bertugas menjaga semua jendela dan pintu markas agar tidak sampai ada serdadu Belanda yang lolos.

Usai berdzikir, Rahman Aidi Rajo, salah seorang anggota pasukan 17, menguji tekad kawan-kawannya. Diambilnya sepotong kayu, lalu ditancapkan ke tanah, dan setiap anggota pasukan disuruh mencabutnya. Siapa yang berhasil mencabut, tidak diperbolehkan ikut berperang, karena dianggap masih ragu, dan ternyata tak seorangpun yang berhasil mencabutnya.

Bukan tidak bisa, melainkan tidak mau mengerahkan tenaga untuk mencabutnya. Berarti semua bertekad untuk berperang dengan sepenuh hati, dan menurut firasat Sidi Rajo, insya’allah tidak akan ada yang gugur. Usai salat Isya’ berjemaah, sebagai komandan pasukan, Siti menegaskan, “kalau nanti berpaling, saudara-saudara dianggap keluar dari Islam, dan saya akan tetap terus maju, meskipun seorang diri.”

Kira-kira pukul 20.30, pasukan Siti sampai di kampung Parit, tempat strategis untuk mengatur siasat dan berlindung. Seorang diantara mereka diutus untuk mengamati situasi markas Belanda. Tak beberapa lama, utusan itu kembali dengan mengatakan bahwa pasukan Belanda telah tidur. Siti dan pasukannya berangkat mendekati markas Belanda.

Tepat pukul 22.00, mereka mengepung markas Belanda, namun baru dua jam kemudian mereka mendekat, diawali oleh kelompok pertama, Siti dan Majo Ali menyelinap ke dalam markas, disusul Rasyid dan Dullah. Kelmpok kedua, tinggal di luar, mengamati jendedla dan pintu agar tidak ada serdadu Belanda yang lolos. Majo Ali segera memadamkan semua lampu. Ketika Majo Ali sedang membuka pintu kamar Komandan pasukan Belanda dan hendak mematikan lampu, sang komandan terbangun dan langsung menyerang. Majo Ali tak sempat mengelak, lehernya tercekik, melihat itu, Siti segera menyerang si Komandan, dia memukul punggung si Komandan dengan ujung Rudusnya, dan Majo Ali pun terselamatkan, namun Siti terdesak, seketika Rudusnya menyabet lampu hingga ruangan menjadi gelap. Siti langsung menusuk perut si Komandan, maka Belanda kafir iktupun tewas seketika.

Di tengah pekik takbir bersahutan, satu persatu serdadu Belanda berjatuhan, hingga tiba-tiba suasana menjadi hening. Pasukan 17 mengira pasukan Belanda yang berjumlah 55 orang sudah mati semua. Maka pasukan juhad itupun kembali pulang. Mendadak terdengar rentetan tembakan. Pasukan Siti berlarian menyelamatkan diri, namun malang bagi Siti, dia tertembak di punggung kanan atas. Sementara suaminya, Rasyid tertembak di selangkangan. Siti menemui Rasyid. Ternyata masih ada dua serdadu Belanda yang masih hidup. Keesokan harinya, kedua serdadu itu melaporkan penyerangan tersebut ke markas Belanda di Lubuk Basung. Belanda segera mengirim bala bantuan dari Pariaman dan Bukit tinggi untuk mengamankan Manggopoh. Sejak itulah suasana di Manggopoh mencekam.

Para pemuka masyarakat, ninik mamak Manggopoh, ditangkap dan dipenjarakan di Lubuk Basung. Sementara warga Manggopoh mengurung diri di rumah atau mengungsi ke hutan. Manggopoh pun di jadikan daerah tertutup. Penduduk dilarang keluar masuk Manggopoh. Siapapun yang mencurigakan akan ditangkap, yang melawan, langsung tembak ditempat.

Akan halnya Siti dan Rasyid, yang tertembak, mereka pulang berpisah jalan. Sampai di pondokan orang tua dan anak-anaknya, Siti langsung menggendong Dalima, anaknya yang masih berusia dua tahun, sementara tangan kirinya membelai kepala Tamam yang duduk disampingnya. Darah yang terus mengucur dari luka di punggungnya tak ia perdulikan. Tak berapa lama, muncul seorang Nelayan bernama Saibun, memberi tahu bahwa Rasyid bersembunyi diseberang sungai Antokan.

Ia menawarkan diri mengantarkan Siti menemui Rasyid Siti pun berangkat menemui Rasyid dengan menggendong Dalima. Setelah menyeberangi sungai Antokan dengan Perahu Saibun, Siti Melihat NinoRasyid melambaikan tangan dari sebuah pondok kecil nun dikejauhan. Dengan susah payah Rasyid lari mendekat, namun karena banyak mengeluarkan darah, ia roboh, tepat saat berada dihadapan Siti.

Siti segera merawat luka suaminya di pondok kecil itu, tak berapa lama Rasyid siuman. Mereka menetap di pondok Saibun selama tiga hari, lalu pulang melewati hutan belukar. Mereka berjalan di siang hari, malam hari beristirahat, tidur di bawah pohon besar. Sampailah mereka di sebuah ladang milik seorang lelaki tua, dan menginap semalam. Dari petani tua itu mereka tahu, keadaan di Manggopoh semakin buruk.
Belanda telah mengumumkan akan memberi hadiah besar kepada siapapun yang berhasil memberi tahu tempat persembunyian Siti dan Rasyid.

Sementara itu tuanku padang, yang tidak ikut dalam penyerangan, karena tengah berada di Padang, merasa geram. Sehari setelah penyerangan yang dilakukan oleh pasukan 17, pada pukul 20.00 ia menyerang markas Belanda dibantu Unik dan Kana. Tapi mereka bertiga gugur. Dan segera setelah itu, Nagari Manggopoh dibumihanguskan oleh Belanda.

Adapun Majo Ali dan Dullah, yang bersembunyi di hutan, melarikan diri, sebab dikejar-kejar oleh pasukan Kavaleri Belanda. Karena kelaparan dan kelelahan, mereka tak mampu lagi berlari. Akhirnya Belanda menemukan mereka terkapar tak berdaya. Mereka gugur ditembak musuh dari jarak dekat.

Setelah 17 hari, Siti dan Rasyid dalam pelarian, sementara situasi di Manggopoh semakin tak menentu, tak tega mendengar keadaan itu, mereka sepakat menyerahkan diri. Mereka tak ingin rakyat lebih sengsara gara-gara Belanda ingin menangkap mereka. Dengan menyerahkan diri, mereka berharap Belanda tak akan lagi menekan dan menyengsarakan rakyat. Mereka lalu menemui wali nagari Bawan untuk menyerahkan diri. Disepanjang jalan, mereka saksikan warga Bawan menutup rapat pintu rumah mereka karena ketakutan. Mereka bertemu Djunis, warga Bawan, yang ternyata pernah belajar ilmu silat kepada Rasyid di Masang. Maka mereka tinggal sehari di rumah Djunis, baru pada keesokan harinya ke kantor wali nagari Bawan.

Ternyata tentara Belanda sudah menunggu di sana. Ketika mereka hendak diborgol, wali nagari mencegah, Jangan mereka diborgol atau dilukai, sebab hal itu dapat memicu kemarahan warga Manggopoh dan sekitarnya, kata wali nagari Bawan. Pada pukul 12.00 mereka bersama Dalima dalam gendongan Siti, diangkut ke Lubuk Basung dengan pengawalan ketat pasukan Belanda. Ternyata orang tua dan anak sulung mereka, Yaman, sudah lebih dulu berada di sana.

Meski sudah menyerah, Siti masih saja menunjukkan keperkasaannya sebagai pahlawan. Menjawab introgasi petugas klonial Belanda, dengan lantang ia menyatakan tidak takut dihukum gantung, :Saya menyerang markas dan membunuh serdadu Belanda, karena Belanda telah melanggar adat dan agama warga Manggopoh,” katanya. “Saya peringatkan pula agar serdadu-serdadu Belanda tidak lagi merendahkan martabat perempuan Minang yang sangat ditinggikan di masyarakatnya,” menyaksikan keberanian perempuan itu, introgator kolonial itu geleng-geleng kepala.

Akhirnya untuk sementara mereka ditahan di Lubuk Basung. Setelah mendekam di tahanan selama 14 bulan, mereka dipindahkan ke penjara Pariaman, dan 18 bulan kemudian mereka dipindahkan lagi ke penjara Padang. Setelah 12 bulan di penjara di Padang, Rasyid dibuang ke Manado, Siti yang juga minta dibuang bersama suaminya ke Manado, malah dibebaskan dengan alasan punya anak kecil. Sejak saat itulah tak terdengar lagi genderang perang di Manggopoh. Siti tinggal di rumah mengasuh anaknya, Dalima, yang tak lama kemudian meninggal.

***

PADA 1960, Kepala Staf Angkatan Bersenjata, Jenderal Nasution menyampaikan penghargaan kepada Siti, bertempat di balai nagari. Nasution mengalungkan penghargaan Negara dan rakyat atas keperkasaan Singa Betina dari Sumatera Barat itu. Sang Jenderal bahkan sempat membopong dan mencium wajah tua Siti, yang di hari-hari tuanya sering dipanggil Mande (Ibu) Siti.

Ketika usianya mencapai 78 tahun, tubuhnya semakin lemah, sementara matanya mulai rabun. Namun akhirnya pada tahun 1964 harapan masyarakt Manggopoh terwujud juga. Pemerintah RI menggelari Siti sebagai pahlawan perintis kemerdekaan RI. Dan setahun kemudian, tepatnya 22 Agustus 1965, sang pahlawan pun wafat dalam usia 85 tahun di rumah salah seorang cucunya di kampung Gasak, Kabupaten Agam. Almarhumah dimakamkan di taman makam pahlawan Padang.

Riwayat perjuangan Singa Betina yang gagah berani itu tersimpan di museum Adityawarman dan Gedung Wanita Rochana Koeddoes, Padang. Siti telah berjuang, Siti telah tiada, tapi sosok kepahlawanan dan perjuangannya tetap dikenang sepanjang masa.

Jumat, 20 Februari 2015

Siti Manggopoh, Singa Betina Ranah Minang

Ada yang terlupakan dari catatan sejarah Indonesia. Siti Manggopoh. Nama perempuan asal Minang ini memang tidak bergaung, seperti RA Kartini yang dianggap sebagai tokoh pahlawan Indonesia. Padahal, jika ditelusuri lagi, Siti Manggopoh merupakan pahlawan perempuan dari Minangkabau yang mampu mempertahankan marwah bangsanya, adat, budaya dan agamanya. Bagaimana tidak, Siti Manggopoh tercatat pernah melakukan perlawanan terhadap kebijakan ekonomi Belanda melalui pajak uang (belasting).

Ketika itu, perempuan-perempuan Indonesia yang berpendidikan tinggi sedang mengibarkan bendera perjuangan gender, dan pada saat itu Siti Manggopoh, perempuan pejuang dari desa kecil terpencil di Kabupaten Agam, Sumatera Barat muncul sebagai perempuan dengan semangat perlawan terhadap penjajahan yang terjadi di negerinya.

MASA LAHIR
Siti Manggopoh, merupakan perempuan Minang yang memiliki nama Siti. Ia lahir bulan Mei 1880. Nama Manggopoh dilekatkan pada dirinya, karena ia terkenal berani maju dalam perang Manggopoh. Manggopoh itu sendiri merupakan nama negerinya.

Siti merupakan anak bungsu dari enam bersaudara. Kelima kakaknya dengan senang hati menyambut kelahiran Siti, karena Siti adalah anak perempuan pertama sekaligus terakhir yang dilahirkan dalam keluarga mereka. Kelima kakak laki-laki Siti pun selalu mengusung Siti ke mana-mana. Ia membawa Siti ke pasar, ke kedai, ke sawah, dan bahkan ke gelanggang persilatan.

Siti pun pernah bermain sangat jauh dari kenagarian Manggopoh, bahkan sampai ke daerah Tiku, Pariaman. Tak hanya itu, ketika kakaknya belajar mengaji ke surau, Siti juga diajak dan mengecap pendidikan di surau. Sebagai perempuan Minang, Siti memiliki kebebasan. Ia membangun dirinya secara fisik dan nonfisik. Ia belajar mengaji, bapasambahan dan juga persilatan. Inilah kiranya yang menyebabkan Siti berani maju ke medan perang untuk melawan penjajahan Belanda di negerinya.

SITI MENIKAH
Siti menikah dengan Rasyid. Pernikahan mereka ternyata tidak membuat Siti terikat dengan tugas perempuan di dalam rumah tangga. Justru bersama suaminya, Rasyid, Siti memiliki semangat dan arah perjuangan yang setujuan. Mereka bahu membahu melepaskan penderitaan rakyat Minangkabau. Kesadaran ini muncul ketika Siti dan Rasyid merasakan bahwa telah terjadi penindasan di negerinya oleh pemerintahan Belanda.

Dari catatan yang ada, meski sebagai seorang tokoh pun, ternyata Siti pernah mengalami konflik batin ketika akan mengadakan penyerbuan ke benteng Belanda. Ia mengalami konflik ketika rasa keibuan terhadap anaknya yang sedang menyusu muncul, padahal di satu sisi, ia merasakan sebuah panggilan jiwa untuk melepaskan rakyat dari kezaliman Belanda. Namun, ia segera keluar dari sana dengan memenangkan panggilan jiwanya untuk membantu rakyat.

Inilah catatan untuk Siti Manggopoh. Ia pun kembali menunaikan tanggung jawabnya sebagai ibu setelah melakukan penyerangan. Catatan lagi menyatakan bahwa Siti pernah membawa anaknya, Dalima, ketika melarikan diri ke hutan selama 17 hari dan selanjutnya dibawa serta ketika ia ditangkap dan dipenjara 14 bulan di Lubukbasung, 16 bulan di Pariaman, dan 12 bulan di Padang. Perempuan Minangkabau pemberani, yang berani bertaruh mengikutserakan anaknya ke medan perang, karena kondisi fisik anaknya yang masih kecil.

PAJAK BALESTING
Belasting merupakan tindakan pemerintah Belanda yang menginjak harga diri bangsa Minangkabau. Rakyat Minangkabau merasa terhina ketika mematuhi peraturan untuk membayar pajak tanah yang dimiliki secara turun temurun. Apalagi peraturan belasting dianggap bertentangan dengan adat Minangkabau. Di Minangkabau, tanah adalah kepunyaan komunal atau kaum di Minangkabau.

Kesewenang-wenangan Belanda dalam memungut pajak di tanah kaum sendiri, membuat rakyat Minangkabau melakukan perlawanan. Perlawanan tersebut juga tidak bisa dilupakan oleh Belanda, karena adanya sebuah gerakan yang dilakukan Siti Manggopoh pada tanggal 16 Juni 1908. Belanda sangat kewalahan menghadapi Siti Manggopoh pada masa itu, bahkan ia meminta bantuan kepada tentara Belanda yang berada di luar nagari Manggopoh.

Siti Manggopoh memang membangun dirinya dengan kecerdasan sejak kecil. Hal inilah yang dimunculkannya ketika menyusun siasat yang diatur sedemikian rupa. Dia dan pasukannya berhasil menewaskan 53 orang serdadu penjaga benteng. Siti memanfaatkan naluri keperempuanannya secara cerdas untuk mencari informasi tentang kekuatan Belanda tanpa hanyut dibuai rayuan mereka.

PEMBANTAIAN TENTARA BELANDA
Di markas belanda di manggopoh, sewaktu tentara belanda sedang mengadakan pesta judi dan mabuk mabukan masuklah seorang wanita cantik, yang sebenarnya adalah Siti, buruan pemberontak yang paling di cari tentara belanda. Siti lansung membaur dengan para tentara yang sedang mabuk itu.
Karena kelelahan dan teler karena minuman keras, akhirnya puluhan tentara belanda terkapar tak sadarkan diri, melihat peluang tersebut siti segera memberi isyarat kepada para pejuang yang sudah menunggu di luar untuk segera menyerang.

Para pejuang merebut markas belanda dan membantai puluhan tentara belanda teresebut, tercatat 53 orang tentara belanda tewas dan 2 orang berhasil melarikan diri dalam keadaan terluka parah ke lubuk basung.

Akibatnya, dalam Perang Manggopoh, Siti memenangkan pertarungan dengan Belanda. Ia berhasil menyelamatkan bangsanya dari penjahahan. Oleh sebab itu, sejarawan Minangkabau mencatat Siti Manggopoh sebagai satu-satunya perempuan Minangkabau yang berani melancarkan gerakan sosial untuk mempertahankan nagarinya terhadap pengaruh asing. Bahkan tidak jarang gerakan yang dilancarkannya secara fisik.

Perebutan benteng yang dilakukan Siti menyulut Perang Manggopoh. Akhirnya Siti bersama sang suami, Rasyid Bagindo Magek, berhasil ditangkap dan dipenjarakan tentara Belanda. Tapi, lantaran mempunyai bayi, Siti terbebas dari hukuman pembuangan.

Siti Manggopoh meninggal di usia 85 tahun, pada 20 Agustus 1965 di Kampung Gasan Gadang, Kabupaten Agam.

USULAN MENJADI PAHLAWAN NASIONAL
Semasa zaman penjajahan Belanda, banyak sudah pahlawan nasional yang turut serta membela negara ini. Kendati begitu, ada juga pejuang yang tak dikenal sama sekali. Boleh jadi, lantaran itu pula Pemerintah Daerah Propinsi Sumatra Barat dan DPRD setempat, baru-baru ini, kembali mengusulkan ke pemerintah pusat, supaya Mandeh Siti Manggopoh atau lebih dikenal dengan sebutan Siti Manggopoh, dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Alasannya, perempuan itu terbukti amat ditakuti Belanda lantaran pernah menaklukan benteng sang penjajah di Manggopoh, Kabupaten Agam, Padang, seorang diri.

Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, nama Siti Manggopoh memang tak pernah muncul ke permukaan. Lantaran itu pula, sejarah pejuang perempuan yang satu ini hanya diketahui sebagian masyarakat Sumbar.

Namun masyarakat setempat masih menghargainya, terbukti lewat peringatan 93 tahun Perang Manggopoh, yang sekaligus menjadi momentum peresmian Monumen Siti Manggopoh.

Dia dinobatkan oleh Satria Muda Indonesia sebagai pendekar silat Minang. Gelar tersebut sebagai penghormatan terhadap kiprah Siti yang juga dikenal sebagai pesilat tangguh sejak remaja.

Selain itu, Siti juga membangun gelanggang persilatan di Tanah Nagari Manggopoh.

Sikap Siti Manggopoh ini dapat dijadikan pedoman dan bukti bahwa kaum perempuan Minangkabau tidak berbeda kemampuan dan haknya dari kaum laki-laki. Dan Siti Manggopoh layak disebut sebagai pahlawan Indonesia, meski pemerintah tidak terlalu arif dan menggaungkan namanya di tingkat nasional.

Kamis, 18 Juli 2013

Hand grinding



 HAND GRINDING
Hand grinding machine is a machine that is used to grind the workpiece. Originally only intended for grinding machine workpiece in the form of a hard metal such as iron and stainless steel. Grinding can aim to hone the workpiece and cutting tool such as a knife, or can also aims to establish a workpiece such as tidying cutting results, smoothing welds, forming arches on angular workpieces, workpiece surface prepared for welded, and others.
Grinding machine is designed to produce a speed of about 11000-15000 rpm. With the speed of grinding stone, which is composed of aluminum oxide with appropriate roughness and hardness, can erode the metal surface to produce the desired shape. With such speed as well, grinding machine can also be used to cut metal objects using a grinding stone which is devoted to cutting. To determine the composition and content of grinding stones suitable for object works can be seen in the article specifications grinding stone.
In general, hand grinding machine used to grind or cut metal, but by using appropriate eye stones or we can also use a grinding machine on the workpiece such as wood, concrete, ceramic, tile, brick, natural stone, glass, etc. . But before using hand grinding machine for non-metal workpieces, should also ensure that we use it properly, because the use of hand grinding machine for metal workpiece not generally have a greater risk. For that we need to use safety equipment such as eye protection, protective nose (mask), gloves, and also need to use the handle of the hand that is usually provided by a grinding machine. Not all hand grinding machine provides a handle hand, because the machine does not provide the handle arm is usually not recommended for use on non-metallic workpieces.
To cut the wood we can use a circular saw blade measures 4 "as provided by the brand and brand eye GMT. For cutting building materials such as brick, tile, concrete, ceramic, or natural stone we can use the eye piece as supplied by Bosch or Makita brand. To form or grinding materials can also use concrete grinding eyes as provided by Benz brand. To grind the glass we can also use the grinding stone that is devoted to glass. But in addition to using a stone or a right eye we also have to be able to use the right hand grinding machine anyway.
Of several brands and types of option hand grinding machines, grinding machines hand measures 4 "is a lot of grinding machines available on the market. Hand grinding machine is widely used measure for the hobby and small and medium enterprises, while the larger size is usually more widely used for large industries.
On the grinding machine measures 4 "a few well-known brands (such as Makita, Bosch, Dewalt) provide at least 2 options are standard and are more powerful. Standard type power berikisar usually have between 500-700 watts (Makita 9500N / 9553B, Bosch GWS 6-100, Dewalt DW810) while the more powerful had a power greater than 800 watts (9556NB Makita, Bosch GWS8-100C / CE, Dewalt D28111). Basically all purposes just use standard types, the use of a machine with more power is needed for harder workpieces, such as stainless steel, a harder metal, ceramic, natural stone or concrete. Standard type machines that are used for these materials are generally heat faster and shorter-lived, because the harder the material, the machine work harder and thus require greater torque and higher heat resistance.
Special to the workpiece in the form of glass, due to the nature of the material, we need a grinding machine at a lower velocity. And that provides the machine for this purpose is the brand Bosch GWS 8-100CE type, this machine features a akecepatan setting, which is not owned by other brands. Thus we can set the machine on low speed, thereby reducing the risk of damage to the workpiece. Also because of this feature, grinding machines Bosch GWS 8-100CE can also be used to polish the car. Simply by using a rubber plate and the appropriate wool polishes.
Hand grinding machine is a versatile machine that can be used for grinding or cutting metal objects, wood, building materials, glass and car polish. By using the machine and the right eye then we can use the optimal grinding machine. But do not forget we also need to pay attention to safety.

Rabu, 26 Desember 2012

Pasambahan Siriah


Imbau :
Sungguah surang jo baduo ambo imbau sifaiknyo sagalo dunsanak nan datang tadi, manuruik pasa nan biaso kato biaso di banaan rundiang biaso di puhunkan yapuhun parundiangan dakek sutan/sidi.
Jawab :
Dakek ambo, insyaallah.

Imbau :
Karano ado bana nan taraso andak manampuah jalan luruih manyabuik kato nan bana, akan tetapi sabalun kato di sabuik rundiangan di anta  sampai, karano barundiang diateh medan manyilih didapan angku niniak mamak imam katik sanak jo sudaro sifaiknyo sagalo dunsanak nan datang tadi
Manuruik sandaknyo iyo tabaoan taratik jo manyilih lelo jo korenah ta angkek an tangan nan duo basusun jari nan sapuluah di unjaman lutuik nan duo di takuan kapalo nan satu sambah dinamoan, sabah lalu kato di baco iyo baitu kato nan sarancaknyo. Baa dek ambo kok marabuik pantangan nan kacaba bakandak pantangan nan ka buliah, indak sarato tujuan nan baangkek jari nan basusun malahan kato nan bana ka dibaco jalan nan luruih kaditampuah sambah nan tuo samo kito pamulio sakian rundiangan dianta sampai.

Jawab :
Kato lah tibo rundingan di bagindo dakek ambo sungguah dakek ambo sifaiknyo sagalo kami dunsanak nan datang tadi, baa nan dek ambo manuruik pasan nan biaso tuga taasak baarah tibo kato di lapeh di sauik i, kato surang dapek bulek dek kami ado surang baduo jo batigo janji jo istirahat nan bapintak mufakaik ambo dulu mananti bagindo jo panitahan.

Imbau :
Baa kato sutan tadi, mancari kato jo mufakaik ambo mananti jo panitahan, elok bunyi gandang batingkah, samanih kato ditarik jo mufakaik baa pulo ndak kabuliah baluangan tantang tu
Jawab:
Iyo lah talambek ambo ateh manjawab kato mangumbalikan parundingan bagindo tadi karano ambo mancari kato jo mufakaik manggiliang kato jo paramuan, lah bulek lah buliah di golongan picak lah buliah dilayangkan, tapi diateh kato kato nan lah putuih dek kami bulek aia kapambuluah padu kato jo mufakaik.
Ateh kamanjawab kato mangumbalikan parundingan kito tadi. Iyo tapulang kadakek ambo, baa kolah lai lah tajadi?
Imbau :
Iyolah talambek sutan ateh jawab kato mangumbalikan parundingan ambo tadi dek karano sutan mancari kato jo mufakaik manggiliang kato jo paramuan baa kini lah dapek kato nan samofakaik sutan juo nan ka mangumbalikan parundingan ambo kan iyo baitu sutan ? ndak dek ambo pucuak dicinto ulampun tibo sumua dikali aia tabik lah pamatang gadang nan balambak e lah sarancak e bana tu nyo
Jawab :
Alah nan manjadi parundiangan gindo tadi karano ado bana nan taraso manampuah jalan nan luruih manyabuik kato nan bana tabik adaik bakarilahan, ratak pusako karano pabuatan, kok ado kato nan bana kadibaco jalan lurui kaditampuah baluangan jalan bakek lalu, bakanak an janjang bakek naik, bacolah bia kami danga an.
Imbau :
Alah jadi isi rundingan silang bapangka karajo nan bapokok arak jo jariah nan lah lapeh paluah didado nan lah suruik rokok sabatang nan lah anguih, kecek mangecek alah pulo, arak lapeh kiro-kiro tumbuah arak lapeh dek sagalo dunsanak nan datang, kiro-kiro tumbuah dek silang bapangka karajo nan bapokok, ko kaganti siriah kagagangnyo, ko pinang katampuaknyo lalu disusun diatakan ka dalam carano dilingka jo arai pinang ditadah jo pinggan putiah di saok jo aleh lamak, siriah dilengkapi jo saalaiknyo carano di tangah di katapian di pinjek lalu di tatiang diatakan ka tangah-tangah di hadapan angku niniak mamak imam katib, sifaiknyo sarato dunsanak kami nan datang tadi. Itulah kami andak malaluan parmintaan, siriah di cabiak pinang di gatok sadah di palik santo di jujuik lalu di makan samasak e sakian rundiangan di anta sampai


Jawab :
Dek karano abih-abih baangkuik rimbun batutuah, lah baasak ladang baaliah baniah tadi tantangan sifaik parundingang kato alah bajawab parundiangan alah bakumbalian, baa kni lah siriah pulu nan gindo kabaan, baa nan dek ambo kok baiyo ndak sadang sakali kok bajalan ndak sadang salangkah kok mangabek ndak sakali arek mamancuang ndak sakali putuih kok kandak ka dibari pintak kadipalakuan, kato ambo tariak jo mufakaik mananti gindo sakatiko
Imbau :
Baa nan kato sutan tadi baasak ladang baaliah baniah kok tadi sifaik parundiangan kato bajawab rundiangan lah bakumbalian kandak lah babari. Baa kini siriah nan kami idangan baa ruponyo dek sutan kok kandak ka dibari pintak kadipalakuan , kato di elo jo mufakaik iyo baitu? Baluanga tantang tu, bakarantian awak dulu
Jawab :
Tempo diawai tadi parundiangan gindo balatakan dalam sitinah ………………….. dalam siraik karano ambo mancari kato jo mufakaik manggiliang jo paramuan, dek gindo lah mananti baa dek ambo lah bapa iyo an, sapanjang paiyoan ambo tadi bulek aia kapambuluah padu kato jo mufakaik babelok-belok kabau di kandang suruiknyo ka balero juo  kok acok bana kato dari surang kanansurang limpahannyo kabadan diri ambo juo, panjawek kato pangumbalikan parundiangan tadi kabaa kolah lai lah kajadi.
Imbau :
Baa kato sutan tadi rundiangan ambo ba atakan dalam sitinah karano sutan mancari kato jo mufakaik manggiliang kato jo paramuan, baa kini ateh manjawab kato mangumbalikan parundiangan ambo tadi kan iyo baitu? Kandak lai kababari pintak lai kabalakuan siriah ambo lai kamasak barang tabik nan bak padi barang tumbuah nan bak bijo di ma tarabik e batarimo sajo
Jawab :
Sabalun kato bajawab rundiangan bakumbalian cameh ambo tantangan nan ka anyuik, tagamang tantangan nan kajatuah, setia manjalani untuang manyudahi, satantang rundiangan nan gindo anta sampai tadi, elok ririknyo nan bak jaguang elok susunnyo nan bak piriang, elok sikeknyo nan bak pisang, baa nan dek ambo kok indak tatitih nan bak batang tatikam nan bak jajak, nan tingga rila jo maaf nan di pintak
Imbau :
Aa lah nan marusuah mangaya dek sutan kini, tantangan rundiangan nan ambo anta sampai tadi. Kok indak tatitih bak batang tatikam jajak dek sutan, indak doh dek ambo kini bago saketek lai sadang malah lai cukuik sabilangan baa pulo ndak ka jadi.
Jawab :
Aa lah nan manjadi rundiangan gindo tadi, tantangan siriah kelangan kandak di silang nan bapangka, siriah dicabiak pinang di gatok gambia di pipiu sadah di palik santo di jujuik dimakan samasak-masak nyo kan yo baitu.
Imbau :
Kok kandak lai raso kadibari pintak lai dipalakuan adapun siriah masak duo, partamo masak dimakan nan kadou masak jo mufakaik kok salah satu tabokan dek kami baa ko dek pangka.
Jawab :
Adapun masak siriah duo maralah, partamo masak dimakan kadou masak jo mufakaik kan iyo baitu. Ndak doh dek kami kandak lai kababari siriah kami lai kamasak batarimo suko istirahat sakatiko
Lah baegangan kiri jo kanan ilia jo mudiak dapek kato nan sasuai, kok nama nan baradaik makan siriah manjambo ka carano nama nan indak jo mufakaik lah masak siriah gindo
Imbau :
Kandak alah babari pintak lah balaku siriah kami lah masak, sanang dalam hati sajuak kiro-kiro bakarantian kito dulu.     

Selasa, 04 Desember 2012

Makalah osiloskop


BAB I
PEMBUKAAN

1.Latar Belakang
            Osiloskop sinar katoda (cathode ray oscilloscop, selanjutnya disebut CRO) adalah instrumen laboratorium yang sangat bermanfaat dan terandalkan yang digunakan untuk pengukuran dan analisa bentuk-bentuk gelombang dan gejala lain dalam rangkaian-rangkaian elektronik. Pada dasarnya CRO adalah alat pembuat grafik atau gambar (plotter) X-Y yang sangat cepat yang memperagakan sebuah sinyal masukan terhadap sinyal lain atau terhadap waktu. Pena (“stylus”) plotter ini adalah sebuah bintik cahaya yang bergerak melalui permukaan layar dalam memberi tanggapan terhadap tegangan-tegangan masukan.
            Dalam pemakaian CRO yang biasa, sumbu X atau masukan horizontal adalah tegangan tanjak (ramp voltage) linear yang dibangkitkan secara internal, atau basis waktu (time base) yang secara periodik menggerakkan bintik cahaya dari kiri ke kanan melalui permukaan layar. Tegangan yang akan diperiksa dimasukkan ke sumbu Y atau masukan vertical CRO, menggerakkan bintik ke atas dan ke bawah sesuai dengan nilai sesaat tegangan masukan. Selanjutnya bintik tersebut menghasilkan jejak berkas layar pada gambar yang menunjukkan variasi tegangan masukan sebagai fungsi dari waktu. Bila tegangan masukan berulang dengan laju yang cukup cepat, gambar akan kelihatan sebagai sebuah pola yang diam pada layar. Dengan demikian CRO melengkapi suatu cara pengamatan tegangan yang berubah terhadap waktu.
            Di samping tegangan, CRO dapat menyajikan gambaran visual dari berbagai fonemena dinamik melalui pemakaian transducer yang mengubah arus, tekanan, regangan, temperatur, percepatan, dan banyak besaran fisis lainnya menjadi tegangan.
            CRO digunakan untuk menyelidiki bentuk gelombang, peristiwa transien dan besaran lainnya yang berubah terhadap waktu dari frekuensi yang sangat rendah ke frekuensi yang sangat tinggi. Pencatatan kejadian ini dapat dilakukan oleh kamera khusus yang ditempelkan ke CRO guna penafsiran kuantitatif.
            Osiloskop sinar katoda dapat digunakan untuk bermacam-macam pengukuran besaran fisika. Besaran listrik yang dapat diukur dengan menggunakan alat itu antara lain tegangan searah, tegangan bolak-balik, arus searah, arus bolak-balik, waktu, sudut fasa, frekuensi, dan untuk bermacam kegiatan penilaian bentuk gelombang seperti waktu timbul dan waktu turun. Banyak besaran nirlistrik seperti tekanan, gaya tarik, suhu, dan kecepatan dapat diukur dengan menggunakan tranduser sebagai pengubah ke besaran tegangan.














2.Tujuan
            Osiloskop adalah alat ukur yang banyak digunakan baik pada industri, laboratorium maupun pada tempat perbaikan peralatan elektronik. Mengingat alat itu begitu banyak digunakan dan tugasnya pun berbeda-beda, maka praktikan diharapkan mampu :
1.      Melihat bentuk-bentuk gelombang listrik dalam layar osiloskop
2.      Mengukur besar tegangan maksimum maupun puncak ke puncak dari masing-masing bentuk gelombang listrik
3.      Mengukur besar frekuensi
4.      Mengukur beda phasa dengan metoda dua saluran dan metoda X-Y
5.      Mengukur perbandingan frekuensi dari dua gelombang listrik.
6.      Praktikan  mampu memahami Kalibrasi Osiloskop












BAB II
ISI

1.Kalibrasi
Kalibrasi adalah suatu kegiatan untuk menentukan kebenaran konfensional nilai penunjukan alat inspeksi, alat pengukuran dan alat pengujian.
Tujuan kalibrasi
• Menentukan deviasi (penyimpangan) kebenaran nilai konvensional penunjukan suatu instrumen ukur.
• Menjamin hasil-hasil pengukuran sesuai dengan standar Nasional maupun Internasional.

            Manfaat kalibrasi
Menjaga kondisi instrumen ukur dan bahan ukur agar tetap sesuai dengan spesefikasinya

            Sebelum kita menggunakan Osiloscope terlebih dahulu kita Cek Ketepatan Dari Osiloscope tersebut ( KALIBRASI ).

Cara PengKALIBRASIan Osiloscope :
1. Jangan Lupa Probe / Kabel Penghubung kita Masukan Ke Input ( Chanel 1 / Chanel 2 )
2. Hidupkan Power Osiloscope.
3. Atur Intensitas Cahaya & Fokus-nya Biar Gambar Pada Osiloscope Enak DiLihat.
4. Volt/Div & Time/Div-nya DiAtur Juga Biar Dalam PengKALIBRASIan Dapat DiHitung.
5. Kemudian Salah satu ujung probe ( Probe Ch 1 atau 2 ) kita hubungkan pada tempat Calibrasi ( Biasanya tertulis CAL )
6. Setelah gambar gelombang ( Biasanya Gelombangnya Berbentuk Gelombang Kotak ) telah tampil pada layar Osiloscope baru dapat kita hitung Frekuensi & Volt Peak to Peak dengan rumus dibawah ini.
1. MENGHITUNG FREKUENSI :
Untuk Menghitung Frekuensi Gelombang Pada Tampilan Layar Osiloscope, Kita Harus Mengetahui Dulu Periodenya Berapa?Baru Dapat menghitung Frekuensinya.Dengan Rumus Sbb:
PERIODE : T = Div Horisontal x Time/Div
FREKUENSI : F = 1/T
2. MENGHITUNG TEGANGAN PUNCAK KE PUNCAK :
Untuk Menghitung Tegangan Puncak Ke Puncak ( Vpp ) Jangan Lupa Kita Harus Mengetahui Skala Pada Volt/Div Nya Dulu Berapa Volt & Juga Tegangan Puncak Ke Puncaknya Berapa Div ( Div Vertikal ).Untuk Menghitung Vpp Kita Gunakan Rumus Sbb :
VOLT PEAK TO PEAK : Vpp = Div Vertikal x Volt/Div
            Instruksi Kerja Pengkalibrasian Osiloscope :
Masukan Kabel Power Pada Socket In Put 220 V Yang Terdapat Pada Bagian Belakang Osiloscope.
Masukan Socket Probe Osiloscope Pada Chanel 1 ( X ) atau Chanel 2 ( Y ).
Masukan Kabel Power ( Steker ) Pada Stop Kontak.
Atur MODE Pada Chanel 1 ( X ) atau Chanel 2 ( Y ).
Atur COUPLING Pada AC / DC & SOURCE Pada Chanel 1 ( X ) atau Chanel 2 ( Y ).
Hidupkan Osiloscope Dengan Menekan Tombol Power & Lampu Indikatorpun Akan Menyala.
Kalau Di Layar Osiloscope Belum Ada Tampilan Garis Horisontal Maka Atur HOLDOFF Pada Posisi AUTO & Pada LEVEL Tombol LOCK Di Tekan.
Setelah Ada Tampilan Garis Horisontal Pada Layar Osiloscope Atur Focus & Intensitas Cahaya Agar Tampilan Gelombang Enak Di Lihat.
Hubungkan Ujung Probe Osiloscope Pada Calibrasi ( CAL ), Maka Pada Layar Akan Tampil Gambar Gelombang ( Gelombang Kotak ).
Atur Posisi Vertikal & Horisontal Gelombang Agar Mudah Dalam Melakukan Penghitungan ( Perioda, frekuensi & Volt Peak to Peak ) Untuk PengKalibrasian Osiloscope.
Atur Volt / Div Pada Posisi 1 V & Time / Div Pada 0,5 mS ( .5 mS ).
Tinggi Gelombang Harus 2 Div Karena Pada Kalibrasi Tercatat 2 Vpp, Kalau Tidak Sampai 2 Vpp Atur Variable Pada Chanel 1 ( X ) atau Chanel 2 ( Y ) Untuk Mengatur Tinggi Gelombang Agar Mencapai 2 Vpp.
Panjang 1 Gelombang Penuh Harus 2 Div Horisontal.
Untuk Menghitung Perioda Menggunakan Rumus :
T = Div Horisontal x Time / Div
= 2 Kotak x 0,5 mS
= 2 x 0,5 . 10-3
= 1 . 10-3 S
Untuk Menghitung Frekuensi Menggunakan Rumus :
F = 1
      T
   = 1
      1 . 10-3
   = 1000
         1
= 1000 Hz ( 1 KHz )
Untuk Menghitung Volt Peak to Peak Menggunakan Rumus :
Vpp = Div Vertikal x Volt / Div
= 2 Kotak x 1 V
= 2 Vpp
Karena Pada Kalibrasi ( CAL ) Tertulis 2 Vpp & 1 KHz Maka Untuk Penghitungan Di Atas Menandakan Osiloscope Sudah Sesuai Dalam Pengkalibrasian.


Pada umumnya, tiap osiloskop sudah dilengkapi sumber sinyal acuan untuk kalibrasi. Sebagai contoh, osiloskop GW tipe tertentu mempunyai acuan gelombang persegi dengan amplitudo 2V peak to peak dengan frekuensi 1 KHz.
                       

2.Metoda Lissajous
Gambar / Diagram Lissajous definisinya, adalah sebuah penampakan pada layar osiloskop yang mencitrakan perbedaan atau perbandingan Beda Fase, Frekuensi & Amplitudo dari 2 gelombang inputan pada probe osiloskop.
Sebelum membahas lebih jauh seperti apa pencitraan lissajous itu ada baiknya kita mantabkan definisi dari Beda Fase, Frekuensi & Amplitudo itu sendiri, agar dalam pemahaman lissajous nanti tidak mengalami kebingungan dan kesulitan.

Definisi Frekuensi
Adalah suatu pernyataan yang menggambarkan " Berapa banyak gelombang yang terjadi tiap detiknya" dalam satuan Hz. Bila disitu tertulis 25Hz berarti ada 25 gelombang ( 1 gelombang terdiri atas1 Bukit & 1 Lembah ) yang terjadi dalam 1 detik, ini berarti 1 buah gelombang memakan waktu 1/25 detik = 0.04 detik untuk tereksekusi sepenuhnya ( Inilah yang biasa disebut dengan Periode Gelombang  = Waktu yang dibutuhkan 1 gelombang untuk tereksekusi seluruhnya ) . Untuk lebih jelasnya lihat gambar dibawah ini:


Domain Y menggambarkan Amplitudo, sedangkan domain X menggambarkan waktu. dari gambar diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa gelombang tersebut memiliki Amplitudo 50, Frekuensi 1 Hz dan Periode 1 Detik. Gambar ke 2:


sekarang perhatikan gambar gelombang diatas!! 1 bukit & 1 lembah dapat tereksekusi seluruhnya pada waktu 0,2 detik! Berarti apa yang dapat kita simpulkan?? Gelombang diatas memiliki Periode = 0,2 detik yang berarti, akan ada 5 gelombang yang dapat terselesaikan dalam 1 detiknya, yang berarti gelombang tersebut memiliki Frekuensi sebesar 5 Hz.

Secara singkat frekuensi merupakan kebalikan dari periode demikian pula sebaliknya, 5 Hz = 1 / 0,2 det |||  0,2 det = 1 / 5 Hz [ Frekuensi = 1 / Periode & Periode = 1 / Frekuensi ]

Definisi Beda Fase
Adalah perbedaan sudut mulai antara 2 gelombang sinusoidal yang sedang diamati.
Definisi  Amplitudo
Adalah nilai puncak / Maksimum positif dari sebuah gelombang sinusoidal. Bila Amplitudo suatu gelombang tertuliskan " 20 " maka nilai keluaran dari gelombang tersebut akan bergerak dari 0 ke 20 ke 0 ke -20 ke 0 dan ke 20 lagi, begitu seterusnya.
Kontruksi Gambar Lissajous
            Gambar-gambar Lissajous dihasilkan bila gelombang-gelombang sinus dimasukkan secara bersamaan ke pelat-pelat defleksi horizontal dan vertical CRO. Kontruksi sebuah gambar Lissajous ditunjukkan secara grafik pada gambar 9-43. Gelombang sinus ev menyatakan tegangan defleksi vertical dan gelombang sinus eh adalah tegangan defleksi horizontal. Frekuensi sinyal vertical adalah dua kali frekuensi sinyal horizontal, sehingga bintik CRT bergerak dua siklus lengkap dalam arah vertical dibandingkan terhadap satu siklus dalam arah horizontal. Gambar 9-43 menunjukkan bahwa angka 1 sampai 16 pada kedua bentuk gelombang menyatakan titik-titik yang berhubungan dengan selang waktu. Dengan menganggap bahwa bintik diawali dari pusat layar CRT (titik 0), perjalanan bintik dapat dilukiskan kembali menurut cara yag ditunjukkan, dan gambar yag dihasilkan disebut gambar Lissajous
Gambar 9-43 Kontruksi gambar
Inti dari gambar diatas adalah cara menggambar lissajous secara manual, yaitu dimulai dengan:

1. Menggambar 2 gelombang yang akan diperbandingkan kedalam Domain X dan Y ( Lihat Gambar, Gel 1 diletakkan sebagai input Y [ Vertikal ] dan Gel 2 sebagai input X [ Horizontal ] ),
2. Lalu memilah milahnya menjadi bagian bagian, dan jarak antar bagian2 pada masing2 gelombang haruslah sama ( contoh dalam gambar adalah 16 bagian )
3. Dan yang terahir MemPlot masing masing titik dengan pasangannya masing masing. Dengan menggambar garis bantuan ke tengah bidang kertas dan mencari titik potongnya dengan perpanjangan garis bantu dari gelombang yang satunya lagi.
4. Hubungkan titik2 tersebut sesuai urutanya, Selesai.

Dalam kenyataannya hasil gambar lissajous sendiri sangat banyak jenisnya tergantung dari Frekuensi, Beda Fase & Amplitudo kedua gelombang yang diperbandingkan ( Dalam contoh diatas kurva lissajous yang terbentuk terjadi dari 2 gelombang yang memiliki Rasio Frekuensi 1 : 2 || Rasio Amplitudo 1 : 1 ||  Beda Fase = 0 derajat ) . Berikut contoh-contoh dari hasil kuva lissajous yang lain:

( Beda Fase 0 derajat, Frek sama )

( Beda Fase 180 derajat, Frek sama )

( Beda Fase 90, Frek sama, Amplitudo X = Amplitudo Y )

( Beda Fase 90, Frek sama, Amplitudo X > Amplitudo Y )

Lalu Bagaimana kita mengetahui Beda Fase secara pasti dari lissajous - lissajous diatas??. Dalam beberapa kasus, hanya kurva2 lissajous tertentu sajalah yang dapat dengan mudah diketahui Beda Fase antara 2 gelombang pembentuknya. Lissajous yang seperti apakah itu? ialah lissajous yang 2 gelombang pembentuknya memiliki Frekuensi sama. Ciri cirinya adalah " lissajous yang hanya terdiri dari 1 lingkaran saja ". Lalu bagaimana cara menghitungnya?? mari kita simak gambar dibawah ini:


Itu adalah rumus untuk kuva yang lingkaranya serong ke kanan untuk kurva lissajous yang lingkarannya serong ke kiri, perhatikan gambar dibawah ini:


Bagaimana dengan lissajous - lissajous yang lain?? kita masih dapat menyimpulkan satuhal dari kurva2 lissajous tersebut yaitu perbandingan rasio frekuensi antara 2 gelombang pembentuknya, Caranya:

Perhatikan gambar!! Tarik garis Vertikal dan Horizontal  Hitung Perpotongan Garis Merah dengan grafik dan anggap ini sebagai variabel "M". Hitung Perpotongan Garis Biru dengan grafik dan anggap ini sebagai veriabel "N"
Maka Frek X : Frek Y = M : N
Pada Gambar 1 maka Rasio Frekuensi X banding Y adalah:
5 : 4

Bagaimana dengan Gambar lissajous ke 2??
Jelas, bahwa Rasio Frek X banding Y adalah :

2 : 3

Dua gelombang sinus dengan frekuensi yang sama menghasilkan gambar Lissajous yang bisa berbentuk garis lurus, elips atau lingkaran, bergantung pada fasa dan amplitudo kedua sinyal tersebut. Sebuah lingkaran hanya dapat terbentuk bila amplitudo kedua sinyalnya sama. Jika mereka tidak sama dan atau tidak sefasa, terbentuk sebuah elips yang sumbu-sumbunya adalah bidang horizontal dan bidang vertical (dengan menganggap bidang penempatan CRO yang normal). Tanpa mempperhatikan amplitudo sinyal, hal yang menentukan jenis gambar yang terbentuk dengan memasukkan dua sinyal yang frekuensinya sama ke pelat defleksi adalah beda fasa antara kedua sinyal tersebut.
            Sebagai contoh, sebuah garis lurus dihasilkan bila kedua sinyal adalah sefasa atau berbeda fasa 180o. Sudut yang terbentuk dengan horizontal akan sama dengan 45o bila amplitudo kedua sinyal adalah sama. Suatu kenaikan pada tegangan defleksi vertical menyebabkan garis yang membentuk sudut  lebih besar dari 45o terhadap horizontal. Dengan cara sama, penurunan penguatan penguat vertical memperlihatkan sebuah garis dengan sudut yang lebih kecil dari 45o terhadap horizontal. Sebuah lingkaran dihasilkan bila beda fasa antara kedua sinyal persis sama dengan 90o atau 270o, dengan anggapan bahwa kedua sinyal tersebut mempunyai amplitudo yang sama. Jika sinyal vertical memiliki amplitudo yang lebih besar, terbentuk sebuah elips engan sumbu panjang adalah sumbu vertical. Bila sinyal horizontal lebih besar, sumbu panjang elips akan terletak sepanjang sumbu horizontal. Dalam hal elips-elips yyang terbentuk karena perbedaan fasa selain  dari 90o, suatu perubahan hubungan antara tegangan-tegangan defleksi mempunyai efek yang serupa.
Dalam matematika, kurva Lissajous (gambar atau kurva Lissajous Bowditch, diucapkan / lɪsəʒu ː / dan / baʊdɪtʃ /) adalah grafik dari suatu sistem persamaan parametrik

     x = Asin (di + delta), quad y = Bsin (bt),

yang menggambarkan gerak harmonik kompleks. Ini keluarga kurva diselidiki oleh Nathaniel Bowditch pada 1815, dan kemudian secara lebih rinci oleh Jules Antoine Lissajous (nama Prancis diucapkan [lisaʒu]) pada tahun 1857
 
Munculnya angka ini sangat sensitif dengan rasio a / b. Untuk rasio 1, angka itu elips, dengan kasus khusus termasuk lingkaran (A = B, δ = π / 2 radian) dan garis (δ = 0). Lissajous sosok lain yang sederhana adalah parabola (a / b = 2, δ = π / 2). Rasio lainnya menghasilkan kurva yang lebih rumit, yang ditutup hanya jika b / adalah rasional. Bentuk visual dari kurva-kurva ini sering sugestif dari simpul tiga-dimensi, dan memang banyak jenis knot, termasuk yang dikenal sebagai knot Lissajous, proyek untuk pesawat sebagai tokoh Lissajous

3.Beda Phasa
Definisi Beda Phasa
Adalah perbedaan sudut mulai antara 2 gelombang sinusoidal yang sedang diamati. Agar lebih jelas perhatikan ketiga gambar dibawah ini ( Ketiga gelombang dibawah memiliki Frekuensi 1 Hz ) :

 A. 50Sin( wt  )

B. 50Sin( wt + 45 )


C. 50Sin( wt - 90 )


Perbedaan dari ketiga jenis gelombang sinus diatas yaitu, sudut dalam memulai besaran nilainya. Jika Gelombang A memulai awalannya dari nilai sudut nol maka, Gel B memulai dari sudut 45 dan Gel. C memulainya dari sudut -90. Jika anda bingung, maka cam kan saja, bila ada gelombang digeser kekiri maka dalam persamaanya akan Di tambahkan sebesar pergeserannya [ Ex : Persamaan Gel. B ], Demikian pula sebaliknya.
Salah satu cara mengukur beda fasa adalah menggunakan mode XY. Yaitu dengan memplot satu sinyal pada bagian vertikal(sumbu Y) dan sinyal lain pada sumbu horizontal(sumbu X). Metoda ini akan bekerja efektif jika kedua sinyal yang digunakan adalah sinyal sinusiodal. Bentuk gelombang yang dihasilkan adalah berupa gambar yang disebut pola Lissajous(diambil dari nama seorang fisikawan asal Perancis Jules Antoine Lissajous dan diucapkan Li-Sa-Zu). Dengan melihat bentuk pola Lissajous kita bisa menentukan beda fasa antara dua sinyal. Juga dapat ditentukan perbandingan frekuensi.
Gambar di bawah ini memperlihatkan beberapa pola Lissajous dengan perbandingan frekuensi dan beda fasa yang berbeda-beda.
Pola Lissajous
Pola Lissajous merupakan pola yang ditimbulkan oleh dua buah gelombang sinusoidal dengan syarat kedua gelombang tersebut mempunyai frekuensi yang sama dan berada pada amplitudo yang konstan.
Pola ini akan digambarkan untuk pengukuran phasa dalam aplikasi mode X-Y pada osiloskop
Bagian ini telah menjelaskan dasar-dasar teknik pengukuran. Pengukuran lainnya membutuhkan setting up osiloskop untuk mengukur komponen listrik pada tahapan lebih mendalam,melihat noise pada sinyal, membaca sinyal transien, dan masih banyak lagi aplikasi lainnya. Teknik pengukuran yang akan kita gunakan bergantung jenis aplikasinya, tetapi kita telah mempelajari cukup banyak untuk seorang pemula. Praktek menggunakan osiloskop dan bacalah lebih banyak mengenai hal ini. Dengan terbiasa maka pengoperasian dan pengukuran akan menjadi lebih mudah.














BAB III
PENUTUP

1.Kesimpulan
            Dari tulisan diatas maka kita dapat mengambil beberapa kesimpulan antara lain yaitu:
1.Osiloskop adalah alat ukur yang mana dapar menunjukkan kepada anda 'bentuk' dari sinyal listrik yang menunjukkan grafik dari tegangan waktu pada layarnya.
Alat ini yang biasa digunakan untuk menganalisa frekuensi yang terdapat didalam perangkat elektronika, dan biasanya yang sering digunakan oleh para teknisi pesawat televisi, namun Osiliscop ini juga dapat dipergunakan dalam menganalisa frekuensi handphone, walaupupun jika dilihat dari sisi fungsi kurang efisien dalam melakukan analisa pada perangkat ponsel, namun banyak para teknisi dan

lembaga pelatihan teknisi handphone menggunakan perangkat osiloskop tersebut, akan tetapi untuk para teknisi yang memang tidak cukup dana untuk membelinya, maka tidak harus pesimis dengan kondisi tersebut, karena memang tanpa Osiloscop kita masih sangat dapat memperbaiki perangkat handphone.
2.Besaran- besaran yang dapat diukur dengan osiloskop antara lain:
1. Amplitudo ( A ) : Jarak perpindahan titik maksimum dari titik kesetimbangan dalam arah getarannya.
2. Periode ( T ) : Waktu yang diperlukan untuk membentuk satu gelombang penuh.
3. Frekuensi ( F ) : Banyaknya gelombang yang terbentuk dalam satu satuan waktu.
4. Sudut fasa ( ) : Simpangan partikel terhadap posisi kesetimbangan dalam radian.
3. Komponen utama osiloskop adalah tabung sinar katoda.
Komponen utama dari sinar katoda ( Cathode ray tube ) atau CRT adalah ;
1.Perlengkapan senapan elektron
2. Perlengkapan pelat defleksi.
3. layar frouorosensi.
4. Tabung gelas dan dasar tabung.
3.Kalibrasi adalah suatu kegiatan untuk menentukan kebenaran konfensional nilai penunjukan alat inspeksi, alat pengukuran dan alat pengujian.
Tujuan kalibrasi
• Menentukan deviasi (penyimpangan) kebenaran nilai konvensional penunjukan suatu instrumen ukur.
• Menjamin hasil-hasil pengukuran sesuai dengan standar Nasional maupun Internasional.
Manfaat kalibrasi
Menjaga kondisi instrumen ukur dan bahan ukur agar tetap sesuai dengan spesefikasinya.
4. Gambar / Diagram Lissajous adalah sebuah penampakan pada layar osiloskop yang mencitrakan perbedaan atau perbandingan Beda Fase, Frekuensi & Amplitudo dari 2 gelombang inputan pada probe osiloskop.
Gambar-gambar Lissajous dihasilkan bila gelombang-gelombang sinus dimasukkan secara bersamaan ke pelat-pelat defleksi horizontal dan vertical CRO.
5. Beda Phasa Adalah perbedaan sudut mulai antara 2 gelombang sinusoidal yang sedang diamati.




2.Daftar Pustaka
            Cooper william davit.(1991).Intrumentasi Elektronik dan Teknik Pengukuran.Jakarta.Erlangga.
            Basyaruddin noor cholis.(1995).Peukur dan Pengukuran.Bandung.Pusat Pengembangan Pendidikan Politeknik.
            http://elektronika-elektronika.blogspot.com/2007/02/pengukuran-fasa.html